What if (1)

What if (1)

I wanna write about something that keeps haunting in my head. Oke aku mulai ya..

Ketika kita tidak bisa memberikan sebuah kepercayaan untuk siapapun. Apapun yang kita rasakan jika mereka mendekat adalah sebuah ketidaktulusan yang akan kembali membuatmu kecewa dan kembali menyesal. Apa kamu tau bagaimana rasanya tidak bisa percaya kepada orang lain? Bukan hanya mereka yang merasa tidak nyaman, manalagi kalau mereka benar-benar tulus, tentunya harus banyak usaha yang dilakukan untuk bisa membuat kita bisa mendengarkannya. Tapi kita sebagai orang yang pernah dikecewakan tentunya tahu bagaimana beratnya harus terus berperang dengan perasaan sendiri. Itu benar-benar tidak mudah.

Apapun yang terjadi di waktu itu tentu banyak memberikan tempat sendiri di hati kita, tentang sebuah harapan yang perlahan menjadi nyata dan sebuah harapan yang tengah kita jaga. Untuk kembali membuka hati itu juga tidak mudah, tidak jarang juga kita harus kembali berperang dengan sejuta pikiran akan pertanyaan apa? Kenapa? Dan Bagaimana?.

Ketika kita telah membuka hati, kepercayaan itu kembali kita berikan kepada orang baru, bisa dengan setelah mereka bersusah payah atau kita berikan cuma-cuma. Apapun itu, kepercayaan tetaplah kepercayaan, seperti halnya janji yang harus ditepati. Terkadang kepercayaan kita tidak diindahkan, kemudian kita memakluminya, hal itu bisa berulang begitupula keputusan kita untuk tetap memakluminya. Tapi itu tidak berlaku selamanya.

Jika kita sudah tidak bisa memakluminya lagi, maka mereka tidak berhak untuk menuntut apa-apa

.
Karena selama ini kita telah sabar untuk terus memaklumi dan memaafkan. Karena bagiku,  memaklumi dan memaafkan itu tidak membutuhkan persetujuan.

Sekarang, bagaimana jika kepercayaan yang selama ini telah kita berikan sepenuhnya sampai kita tidak peduli tentang apa yang orang katakan tentang mereka akhirnya harus berakhir pahit? karena kita terlalu mmempercayainya.

image

Jika dianalogikan, ini seperti kita akan terus berlari lurus mengikuti jalan di depan  karena kita mengikuti apa yang jalan itu tunjukkan. Kita terus berlari meskipun kita tau banyak sekali kemungkinan di depan, bisa saja jalannya buntu, akan ada hewan buas yang siap  menerkam kita, atau mungkin jurang yang penuh bebatuan tajam. Tapi karena kita terlalu percaya dengan tanda yang jalan itu tunjukkan, kita sampai tidak memperdulikan orang lain yang terus memperingatkan. Ajaib bukan? Itulah kepercayaan. Ya… kepercayaan.

But at the moment, ketika kita telah yakin, telah menggunakan kacamata kuda, kepercayaan 101% kita berikan dengan apapun konsekuensinya, ternyata ada di satu titik, titik kecil. Iya… isinya adalah sebuah informasi yang membuat kita diam seketika, ingin marah namun kita harus tetap tenang di saat bersamaan.

Bagaimana dengan perasaan? Tentu tidak mudah untuk menyembunyikan sebuah kekecewaan dan air mata yang harus kita bendung di balik sebuah senyuman.  Kita tidak ingin orang lain tau mengenai kesedihan yang kita alami, yang benar-benar membuat kita merasa sakit sekali. Ada beberapa hal yang membuat kita seperti itu.

Namun apakah ini masuk akal jika kita menyembunyikan kesedihan kita, menyembunyikan kebenaran dari orang lain karena khawatir mereka akan dicap bukan orang baik?

Memendam itu  secara tidak langsung pula semakin membuat kita sakit (to be continued)

2 thoughts on “What if (1)

  1. apapun yg sudah membuat kita kecewa, smoga Allah memberi kekuatan dan kelapangan pada hati kita..agar kita tetap tegar dan bangkit..
    hati ini sprti langit yg luas namun langit pun pernah menangis,,
    menangislah dipundakku, aku disini untukmu💕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s