Kompleksometri

Kompleksometri

Kompleksometri, kompleksometri, kompleksometri ? sebenarnya istilah ini bukanlah istilah yang baru di dalam kehidupanku, ya! Kurang lebih satu tahun yang lalu aku telah mendapatkan materi ini, pada saat aku masih SMK. Saat itu aku masih belum faham. Hehe..
eh… hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 sekitar jam 9 pagi, tepatnya pada pelajaran Kimia Analis, seorang dosen yang asyik, yaitu Pak Syarif Hamdani, kembali mengingatkanku tentang kompleksometri itu tuu… awalnya otakku bisa mencerna materi yang beliau sampaikan, tapiii lama kelamaan otakku mulai jenuh, mungkin karena aku ga sarapan dulu kali yah? Haha… Mungkin. tapi itu bukan alasanku untuk tidak memperhatikan materi yang beliau sampaikan, aku tetap menulis materi yang aku anggap penting (sebenernya semuanya penting, haha..).


(drum roll please!) May I Present to you, my small note about what i’ve learned about COMPLEXOMETRIC as far as i get. So… check it out. Have a fun reading yah !

__________________________________
KOMPLEKSOMETRI

Kompleksometri merupakan metode analisis kuantitatif, yaitu metode titrasi atau pengukuran kadar logam dengan menggunakan senyawa kompleks. Titrasi ini berdasarkan reaksi antara logam dengan ligan untuk membentuk senyawa kompleks antara logam dengan ligan (peghelat).

Pada kompleksometri, hanya unsur atau senyawa nonlogam yang memberikan pasangan elektron bebas kepada unsur logam, jadi ikatan yang terbentuk pada titrasi ini adalah ikatan ionik. Senyawa kompleks terbentuk karena adanya anion yang konsentrasinya melebihi sneyawa garam. Contoh dari senyawa kompleks tersebut adalah [FeCl6]-4.

Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral

(Basset, 1994).

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :

M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O

(Khopkar, 2002).

Senyawa kompleks memiliki sifat khas tertentu, yaitu :
• Menaikan kelarutan
• Larut dalam air, dan
• Memiliki warna

Didalam kehidupan sehari-hari, senyawa kompleks memang dibutuhkan, contohnya saja hemoglobin (hem=Besi) yaitu senyawa kompleks yang diselubungi globulin sehingga berwarna merah. Dan sebenarnya mekanisme obat di dalam tubuh itu mirip dengan mekanisme pembentukan senyawa kompleks dimana obat yang memiliki elektron bebas bisa memberikan bahkan berikatan dengan reseptor yang terdapat di dalamnya.

A. Metode-metode titrasi kompleksometri :
1. Titrasi Langsung
Titrasi ini dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan indikator logam. Pereaksi pembentukan kompleks, seperti sitrat dan tartrat, sering ditambahkan untuk pencegahan endapan hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl dengan pH 9 sampai 10 sering digunakan untuk logam yang membentuk kompleks dengan amoniak.

2. Titrasi Kembali
Titrasi ini digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTAlambat atau apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih dan yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan calmagnite sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas relative rendah dan kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium. Cara ini dapat juga untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di dalam PbSO4 dan Ca dalam CaSO4.

3. Titrasi Subtitusi
Titrasi ini berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks Mg-EDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+, menggantikan magnesium dari kompleks EDTA yang relative lemah itu.

4. Titrasi Tidak Langsung
Titrasi ini beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan sebagai MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar larut lalu menitrasi kelebihan Mg.

5. Titrasi alkalimetri
Dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan analat yang bereaksi netral. Ion hydrogen yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku basa.

B. Indikator Logam
Indikator logam adalah suatu indikator terdiri dari suatu zat yang umumnya senyawa organic yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk senyawa kompleks yang warnanya berlainan dengan warna indikatornya dalam keadaan bebas. Warna indicator asam basa akan tergantung, pada pH larutannya, sedangkan warna indicator logam sampai batas tertentu bergantung pada pM.

Beberapa macam indicator logam yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Eriochrome Black – T
Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10.

b. Jingga xilenol
Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam.

c. Biru Hidroksi Naftol
Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 12 –13 dan menjadi biru jernih jika terjadi kelebihan edetat.

d. Murexid

e. Calmagnite

f. Arsenazo I

g. NAS

h. Pyrocatechol Violet

i. Calcon
___________________________________________________________________
Hasil praktikum kompleksometri muthiaura di lab, hehe.. cekidot !! [PERDANA]


Gambar 1. Warna Larutan

(kiri) titik akhir titrasi tercapai . (kanan) setelah penambahan indikator EBT sebelum dititrasi

Gambar 2.Warna Larutan

(kiri) melewati titik akhir titrasi. (kanan) titik akhir titrasi tercapai

________________________________________________

alhamdulillah, semoga bermanfaat, dan tetap semangaaat! sampai jumpa🙂

salam semuth ^_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s