Wonder Woman

Wonder Woman

Wonder Women

Bau farfum sanex mulai tercium dari jarak ratusan sentimeter menuju hidungku, seorang wanita berkacamata dengan pakaian syar’i nya melewati kami yang tengah asyik menikmati sore yang romantis ini.

“wiiih, minyak nyong-nyong nih, aehh”

“Iya ih, bau banget, ustadzah pake farfumnya berapa liter yah? Udah tau parfumnya nyegak! Uek”

“haha… minyak nyong-nyong? Apaan tuh? Baru denger… haha,,,. Apaan sih La?” tanyaku

“ga tau juga sih, kayaknya sebuatan buat bau yang nyegaaat banget, tapiii ga tau juga sih”,

“haha… Selaaa sela… kirain kamu tau, dasar!”

Hari ini adalah hari Selasa, salah satu hari terfavorite kami, karena di hari itu menu makan malam kami adalah daging ayam plus kerupuk plus sambel buatan emak dapur yang super pedas das das. Selalu membuatku cegukan dan seketika menyerah, jika nekat, bibirku akan terlihat jontor. Haha…

Kami semua, khususnya para santriwati seantero pesantren telah siap dengan piring cantiknya masing-masing. Beberapa diantaranya rela menunggu emak dapur dan konco-konco di depan teras kamar, berhadapan dengan sampah asrama putri yang selalu menggunung. Lantunan ayat suci al-qur’an selalu kontras terdengar di setiap sorenya, menemani kesabaran kami.

“emaaaaa”, seorang santriwati berteriak demikian, seketika sebagian santriwati merapatkan barisan menuju teras kamar Aisyah, menyambut kedatangan mak dapur yang membawa menu spesial kami, ini adalah pemandangan yang sangat lumrah, terutama di hari Selasa, Kamis, dan Jum’at sore. Emak dapur hanya tersenyum geli melihat kelakuan kami seperti burung-burung yang berebut mendapatkan pakannya.

Tak jarang pula, para santriwati telah stand by duduk manis, ataupun berdiri dengan sedikit gelisah menunggu kedatangan mak dapur itu di atas tangga berwarna merah itu. Mungkin ini salah satu hal yang melampaui batas bagi santriwati, tapi mungkin ada faktor kuat bagi mereka untuk melakukan hal tersebut. Begini “barangsiapa yang telat, daging kecil lah yang ia dapat”. Maklum, karena para santriwati tidak mengambil sendiri makanannya di dapur, entah mengapa. Yang jelas itulah peraturan yang berlaku. Namun bagiku, itu bukanlah suatu hal yang harus di pemasalahkan, toh.. dengan cara yang demikian, para santriwati cukup di untungkan, contohnya saja, saat bulan ramadhan tiba, para santriwati tidak perlu lagi bersiap-siap untuk sahur menuju dapur yang letaknya cukup jauh dari asrama, biarkanlah para santriwan yang merasakan dinginnya angin dinihari. Semuanya telah di perhitungkan.

Emak dapur… emak dapur? Baiklah akan aku jelaskan sedikit tentang para wonder women kami yang tercinta ini. Yah… emak-emak dapur.

Dari namanya saja, sudah emak, yaaa… dapat kita kira beliau semua adalah wanita yang berusia lanjut. Yah lagi! Memang benar.

Mereka yang harusnya duduk manis di rumah masing-masing, menikmati usia mereka yang semakin  senja, bermain bersama anak-cucu mereka, dan membuat hidupnya lebih berarti lagi. Ya itulah keinginan idealku tentang mereka. Namun, itu hanya sebuah keinginan. Wonder women kami ini selalu setia mendampingi tumbuh kembang kami menjadi santri-santri yang cerdas. keluh kesah juga jarang terdengar dari bibir mereka yang mulai mengkerut dan tidak berwarna, hanya senyuman manis, seakan bebas dari tekanan dan melupakan usia mereka yang tidak lagi muda. Adalah ma Odah, seorang emak yang tubuhnya tinggi, berkulit sawo matang dengan suaranya yang lembut; selanjutnya ada ma Wiwi, emak yang bertubuh mungil, satu-satunya emak yang masih memiliki gigi terjajar rapi yang kian mempercantik setiap lengkungan senyumnya, selanjutnya ada emak Umi, emak yang sedikit bicara banyak bekerja, terlihat calm, dan tersenyum seperlunya. Sebetulnya masih ada wonderwomen yang lainnya, hanya saja merekalah yang selalu terlihat mengantarkan makanan untuk kami. Mereka datang dengan menggendong bakul nasi di balik punggungnya, dan makanan utama di tangan kanan mereka, untung saja, Maula, Pipit, dan Neneng selalu membantu, terkadang, Pipit yang membawakan bakul nasi, Maula yang bertubuh sangaaat jangkung membawakan air teh panas titipan kami, dan neneng, yang paling suka membawakan buah-buahan atau kerupuknya. Pipit, Maula, dan Neneng adalah anak-anak yang luar biasa, hobi mereka adalah tersenyum dan berteriak kencang, tapi aku menyayangi mereka.

Jum’at 11.08 am

“Winaaaaaaaaa, nyeblak yuu?”

“yuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu”, Kami mencuri jawaban

Selain rasanya yang pedas, seblak juga merupakan salah satu media untuk meningkatkan persaudaraan kami para santriwati. Biasanya setiap siang, kami berinisiatif untuk membuatnya, contohnya siang ini. Wina adalah koki seblak yang cukup profesional, dia bisa membuat 1 baskom sedang seblak pedas dengan cabe hijau yang dirahasiakan jumlahnya, rasa seblak yang pedas itu sangat bersahabat dengan lidah kami para perempuan yang umumnya menyukai sensasi pedas yang sedikit berlebihan. Kali ini aku dan Aisyah dinobatkan sebagai co kokinya, aku betugas untuk membersihkan kerupuk seblak sebelum diolah, selanjutnya merendam seblak dengan air panas, kemudian aku kembali ke barisan pertanda tugasku telah selesai. Sedangkan Aisyah bertindak sebagai pengupas bumbu seperti bawang putih, dan rempah-rempah lainnya. Dan inilah waktunya bagi Wina untuk meracik seblak yang siap memanjakan lidah kami.

Hari Jum’at adalah hari sepinya pesantren, karena kebanyakan para santriwan dan santriwati pergi keluar pondok untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari, biasanya mereka akan kembali sekitar jam 4 atau sesudah ashar, sehingga dapur pun cukup lengang,  sesekali ku melihat dua sampai tiga orang santriwan membawa perlengkapan mandi mereka, mereka menumpang mandi di kamar mandi yang berada tepat di belakang dapur, dan persis di samping asrama para anak-anak luar biasa dan asrama emak dapur yang terjajar secara horizontal. Ku lirik jam berwarna ungu di tanganku, ah, jam 11.19, sebentar lagi Jum’atan, pantas saja mereka mengungsi mandi di sini, gumamku.

“mungkin kamar mandi diasramanya penuh” ucapku simpul

Semilir waginya rempah-rempah mulai menyapa hidungku yang cekatan ini, personil tubuhku mulai memainkan intro keroncongannya, ah.. wanginya membuat kami lapar.

Akhirnya, Wina datang dari sudut kanan pintu, membawa sebakom seblak ala wina yang penuh cinta itu, Gina dan Dina pun ikut membantunya, sedangkan kami, masing-masing membawa gelas yang sebelumnya telah terisi air hangat.

Kami memutuskan untuk menikmatinya di dalam asrama luar biasa itu, sambil duduk manis, aku dan kawan-kawanku mulai membaca do’a sebelum makan, tak lupa, Pipit, Maula, Neneng, dan anak-anak luar biasa itu juga menikmatinya, kami pun larut dalam kebersamaan, kami menonton bersama serial Warkop DKI dari televisi kecil yang  gambarnya terkadang berubah warna, oh tv yang labil, tapi tidak kami hiraukan. emak dapur tidak terlihat berada di sana, entah dimana beliau semua berada.

“Neng, emak kemana?” tanya Aisyah

“emak nuju bobo teh” jawab Neneng sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang tengah tidur nyenyak di atas kasur yang tipis, tepatnya di atas ranjang sedikit usang dan berkarat,  diasampingnya nampak pula seorang wanita yang sedang menyetrika cukup banyak pakaian para santri yang manja, yang belum bisa mandiri. Kembali ku memperhatikan emak dapur yang tertidur itu, wajahnya sangat lugu, sepertinya beliau sangat kelelahan, beliau hanya beristirahat sebentar sebelum waktunya untuk memasakkan kami hidangan makan malam itu tiba. Selamat istirahat Wonder women. Kami mencintaimu.

Parakan Resik, 24 Mei 2012| 10.30 WIB

Sambil menunggu kuliah biologi sel dan molekuler

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s