Ustadzah-ku

Ustadzah-ku

Beliau adalah orang yang pertama kali kutemui di pesantren. Galak, cerewet, dan semua hal negatif sempat melintas di pikiranku tentangnya. saat aku masih kelas 1 SMP di sebuah pesantren tepatnya di daerah Singaparna-Tasikmalaya, sosok ustadzah Wiji selalu membuatku takut. Beliau sangat disiplin dan cerewet jika kami banyak melakukan banyak kesalahan. Pernah, suatu hari saat saya bersama 3 orang teman mau pergi ke kamar anak kelas 2, kami hanya memakai sehelai sarung, karena kami anggap pada waktu itu “daerah” disekitar kamar kami aman, tidak ada ustadzah Wiji. Sayang seribu malang, di tengah perjalanan beliau memergoki kami dan memarahi kami dengan logat jawa-sunda nya, kami hanya bisa menunduk, untuk menatap matanya pun kami tak mau, TAKUT.

Jika beliau ada di pesantren, rasanya seperti terkurung dalam penjara. Kami semua menyadari bahwa beliau akan selalu membuat pesantren aman dan teratur, seperti saat waktu tahajud tiba, beliau tidak pernah absen untuk membangunkan kami, jika kami susah untuk dibangunkan, beliau tidak segan untuk mencubit kami, sebenarnya bukan kami, tapi sepertinya hanya aku yang pernah mendapatkan cubitan spesialnya, secara tempat tidurku berada di depan pintu kamar beliau dan aku memang susah untuk dibangunkan, terkadang jika memang kami sangat susah dibangunkan, beliau menggedor kaca-kaca di setiap kamar, ketahuilah kawan, inilah cara yang paling ampuh untuk membangunkan para santriwati yang masih menikmati mimpinya. Jengkel bukan?. Tentu, karena pada saat itu merasa kalau waktu istirahat yang kami dapatkan tidak sebanding dengan semua kegiatan, mulai dari belajar, ekskul, nyuci, dan kegiatan malam yang rutin kami lakukan. Beliau telah membangunkan kami untuk beribadah dan baca al-qur’an, jika kita ikhlas maka secara tidak langsung kita telah menabung pahala untuk hari nanti. Menurutku begitu.

Jam 07.00 am, kami harus selalu berada dikelas, karena beliau telah stand-by mencari santri yang kesiangan, jika telat, maka kami mendapatkan 5 point kegelapan plus olah raga gratis, yaitu lari mengelilingi lapangan, alhasil kami datang ke kelas dengan ngos-ngosan,. Selain sebagai ustadzah,beliau juga mengajar pelajaran English Grammar, pelajaran yang memusingkan tapi menyenangkan, karena beliau orang jawa tulen dengan bahasa jawa nya yang medok ( truss apa hubungannya??, haha)

Jika beliau pergi pulang kampung, rasanya enak, bebas,tapi pesantren terasa aneh dan berantakan, musik disetel keras, bangun terlambat dan tak segan para santriwati melambatkan jadwal mereka untuk masuk kelas,aku tak mau membanyangkan jika saat itu beliau memutuskan untuk mundur karena tingkah kami, tapi anehnya beliau masih bisa bersabar disaat kami rajin membuatnya jengkel, amat jengkel.

Saat aku beranjak ke kelas 2 SMP, beliau berpesan agar kami menjadi kakak kelas yang bisa membimbing adik kelasnya, tak jarang kami dipanggil olehnya karena adik kelas kami yang manja dan susah diatur seperti kami dulu, tapi beliau terus berpesan “ bersabarlah jika menjadi seorang kakak yang baik”. Tapi kan kesabaran tuh ada batasnya, ( haha.. mulai deh sok tau !!! biariin :)).
Pernah ku mendengar beliau menangis karena kelakuan kami yang menjengkelkan, tapi ku selalu melihat beliau tegar, entahlah….

Sekitar tahun 2007-2008 ustadzah terlihat bahagia karena kami telah menjadi siswa kelas 3 SMP, beliau tidak ingin kami keluar dari pesantren dengan “otak hampa”.lagi, beliau selalu berpesan agar kami selalu belajar dan giat untuk beribadah, memang sangat sering beliau berkata begitu, tapi sayang, kami tidak pernah tahu betapa besar harapannya kepada kami di masa depan nanti, menjadi pribadi yang berguna dan taat, mungkin ini yang beliau maksud. Sungguh menyesal, dikala 1 bulan menjelan UN (Ujian Nasional), karena disaat itulah kami menyadari bahwa beliau orang yang sangat penting dan berharga bagi kami, beliau selalu menegur kami jika kami rajin menonton TV, padahal waktu UN semakin merapat, memang kami salah, waktu yang singkat itu kami gunakan untuk hal yang kuraaaang berguna. Kami merasa sangat dekat dengan beliau dikala melihat dia tersenyum dan tertawa lepas saat kami bersenda gurau dengannya, ternyata dia tak seseram yang aku jelaskan di awal cerita (masih ingatkah? , coba baca lagi yaa >.&lt:).

Meskipun beliau menegakkan prinsip disiplin yang cukup tinggi, tentulah bukan tanpa alasan yang kuat, akhirnya aku tahu tujuannya beliau begitu, yaa kurang lebih seperti ini “manfaatkanlah waktu dengan tepat dan bijak”. Kan ku coba ceritakan ini kepada kalian kawan saat aku berpamitan pulang kepadanya, entah bagaimana ceritanya air mataku bisa menitik cepat disaat kata maaf yang aku ucapkan, beliau memelukku, inilah pelukan pertama dan mungkin terakhir yang dia hadiahkan kepadaku, air mataku pun semakin deras menetes, nafasku mulai tidak beraturan, ketulusan yang ku rasakan dalam pelukkannya seakan menghantarkanku kepada masa laluku, mendapatkan cubitan spesialnya, menerima nasihat dan kenikmatan yang lainnya, perlahan ku lepaskan pelukan hangatnya, dan ku lihat air mata yang juga membasahi pipinya, beliau pun tersenyum dan mulai menyeka air matanya, wajahnya memerah, sungguh mengharukan. Malam ini aku sangat merindukannya, sangaaat rindu. “jagalah diri, jangan lupa beribadah, berbaktilah pada orang tua, dan jagalah nama baik sekolah”.
***
Aku sangat senang kalau mengingat kenanganku di pesantren dulu, rasanya seperti menikmati es lemon yang diminum saat aku kehausan, kurasakan kesegaran yang tiada tara disetiap tegukkannya. HEHE .. HEHE..
Kangen ustadzah Wiji ih, kangeeeeen pisaaan. Masih banyak kenangan yang ingin aku ceritakan pada anda-anda semua, tapiii ntar aja deh, takut pada bosen, hehe.. semoga kawan-kawan dapat mengambil hikmah dari pengalamanku ini yah, makasiiiiiih :)

—————
Jalan Cagak, 20 November 2011 | 08:59 pm,
OST : Back At One-Shayne Ward

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s