Catatan Semuth

Catatan Semuth

LIMA JANUARI
Sore ini sekitar jam setengah 5 aku rapikan kamarku yang lumayan berantakan, surga kecilku ini telah di sulap menjadi sebuah bioskop mini dengan penonton yang lumayan banyak. haha..
Ku sapu, ku pel dengan hati-hati setiap ubin putih disana, sangat menyenangkan saat kulihat tempat itu indah lagi, Ini baru kamarku, ucapku simpul. Akupun mandi.
Bersihin kamar, DONE
Cuci piring, DONE
Mandi, DONE
Nyuci baju?, ku lirik ember disana, aku tersenyum, Embernya kosong, haha..
Dan sekarang aku mau ngapain ya? Belajar? Lagi males.
Tiba-tiba ku mengamati sebuah Novel diatas kasurku, ah, ini dia, Baca novel !!! segera ku siapkan posisi senyaman mungkin. Sebenarnya sih aku kurang suka membaca, tapi…..
“karena cinta itu sempurna”, itulah novel yang akan aku baca, karangan Indi, awalnya ku duduk di lantai, seterusnya di atas kursi, selanjutnya diatas kasur sambil tiduran, inilah posisi paling nyaman untuk membaca, tapi aku ingat, aku sudah punya masalah dengan mataku, aku tak mau menambahnya lagi, dengan berat hati, aku putuskan untuk duduk diatas kasur, empuk!.
Setelah sholat Maghrib, aku tetap lanjut untuk membacanya, sungguh menggugah, kata-kata yang disajikan sangat sederhana dan membuatku asyik menbacanya, lagi dan lagi, aku penasaran.
Kudengar hujan membasahi Parakan Resik malam itu, tiba-tiba seorang temanku, Efi, mengajakku Untuk menemaninya membeli roti di belakang sana, di Batununggal, ini jawabanku :
“iya ntar Muthi anter, tapi muthi sholat dulu yah”
“Iya muthi, aku tunggu”, ucapnya, sambil meninggalkan kamarku dengan jalan sedikit melenggang, sepertinya dia senang.
Dia adalah teman kostanku, meskipun kami berbeda agama, tapi kami selalu berusaha untuk menghargai satu sama lain.
Setelah Sholat, akupun bersiap diri dan mulai membawa payung, selanjutnya kami pun berangkat. Bismillah

Hujan rintik-rintik menyapa payungku secara bergantian, ku menikmati perjalanan menyusuri perumahan parakan yang gelap ini, ku setel lagu-lagu kesukaanku dan tetap menceritakan kesan-kesan akan hari ini bersama Efi, sehingga ketakutannku lumayan berkurang. jujur, aku takut keluar malam, apalagi keluar bukan di daerah sendiri, dan, aku sangat takut melihat pohon-pohon tinggi dan rimbun yang menyejukkan perum di dikala siang, dan menakutkan di malam hari, itu menurutku, mungkin karena dulu aku pernah diracuni cerita hantu yang kebenarannya masih mengambang dari teman-temanku, maklum, dulu aku seorang gadis kecil yang imajinatif.

TRAGEDI PECEL LELE
Ini kali pertamaku menyapa Batununggal pada malam hari, sungguh ramai dengan mobil-mobil yang notabene berkelas tinggi dengan pancaran lampu yang menawan. Ku melihat beraneka ragam jajanan dan masakan dijual dibalik tenda-tenda yang berisikan tulisan menarik dan menggugah selera dipinggir jalannya, tambah ramai saja malam ini.
PECEL LELE- ah, aku kenal makanan ini, aku tertawa dalam hati, mengingat kembali catatanku yang lucu dan aku tak ingin melupakannya, baiklah akan aku ceritakan, secara gamblang, semoga kalian mengerti.
:)
Sekitar dua tahun yang lalu aku PKL di salah satu apotek pemerintah yang lokasinya dekat dengan Dago Plaza, inilah awal dari semuanya. Saat itu aku kebagian shift sore, dari jam 2 siang sampai jam 10 malam, pada malam kamis tepatnya, setiap malam apotek itu selalu ramai dikunjungi, mungkin kebanyakan para dokter spesialis membuka prakteknya pada malam hari, jadi, hubungannya adalah : tempat praktek dokter dan apotek berada di satu atap yang sama, membuat kami sedikit kewalahan untuk mengerjakan resep yang terus mengalir. Karena telah menunjukkan waktu Isya, kami yang beragama islam sholat dan istirahat terlebih dahulu, karena pada saat Maghrib kami hanya bisa melaksanakan sholat saja, dan segera kembali membaca resep-resep para dokter dan menyiapkan obat-obat yang diminta, sangat menyenangkan! karena aku cinta Farmasi, aku menikmatinya.
Selesai sholat, aku, Nova, dan Mba Yani memutuskan untuk makan malam, setelah berbingung-bingung ria, kami jatuhkan pilihan kepada pecel lele yang kelihatannya lezat di pinggir jalan Ir. H. Djuanda. Sambil menunggu makanannya siap, aku mengisi gelas dengan air panas dari thermos pribadiku, airnya panas sekali.
Setengah jalan kami menikmati sajian hangat tersebut,
“Nova, disamping kamu ada orang gila” bisik Mba Yani yang berada ditengah-tengah kami
“Iya, Mba Orang gilanya, haha” timbal Nova, akupun cekikikan,
“Muthi, orang gilanya ada disamping kamu sekarang, eh pindah ke samping si Nova” ucapnya lagi, kali ini terdengar serius, tapi aku hanya tersenyum saja,
“Muthi, ke atas” akupun melakukannya
“Bu, aku minta pecel ya, makan disini” seorang laki-laki berkemeja lusuh, pemilik rambut yang berantakan itu berkata demikian, dia terlihat sedikit stress.
“ mba, masa tuh orang minta pecel aja, ga bilang beli” ucapku dengan nada serendah mungkin
“Muthi, itu yang Mba bilang orang gilaaa” tegas Mba Yani sambil menginjak pelan sepatuku,
Glekkk, aku hanya diam, segera menyudahi makan malamku, menguping bisikkan Mba Yani, seketika Nova membayar bagiannya, kemudian aku dan Mba Yani, kami berpura-pura terlihat tenang, aku tak mengijinkan mataku untuk melirik laki-laki yang berkemeja tadi, setelah menerima kembalian masing-masing, entah mengapa, kedua mataku melirik dia yang duduk di bangku sebelah Nova, aku masih ingat mimik wajahnya yang menakutkan, dia tersenyum padaku, sesekali namun berirama dia menggerakkan kepalanya setengah miring seperti halnya orang yang dilanda struk, aku hanya menarik nafas, :)
sebelum ku berlari, Mba Yani dan Nova sudah ngacir duluan, akupun tak mau kalah, segera ku susul mereka, setelah sampai apotek, Mba Yani merasakan panas dikakinya, ah kakinya merah, dia melirikku yang sibuk mengatur nafas,
“Muthi, air panas kamu kena kaki mba, hhuhuhu…” Mba Yani sepertinya kesal
“ih mba, maaf tadi muthi panik,….” Sebelum ku menamatkan pembelaanku, Mba Yani malah tertawa sekencang-kencangnya,
“Hahahahahahaha.. Nova, kalo kamu lihat wajah si Muthi pas liat tuh orang gila, hahaha.. kerenlah” dia tertawa sambil memegang perutnya, mengabaikan rasa panas dikakinya, Nova juga ikut tertawa, aku ketularan, haha,… dasar. Ternyata Mba Yani sudah tahu persis tentang laki-laki tersebut, karena dia adalah korban sebelumnya, malang, dulu dia bersama teman-temannya pernah dikejar sama tuh orang gila saat jalan-jalan di daerah Dago juga, mereka pun nyumput dikerumunan orang yang menggandrungi Event Car Free day , rambut panjangnya yang indah menjadi berantakan dan make up andalannya pun sedikit luntur karena keringat yang berlebihan, entah berapa jauh mereka diuber-uber, aku juga tak tau apa obsesi orang gila itu kepadanya, yang jelas aku hanya bisa tertawa duet bersama Nova,
“hari sial mba aja itu mah, ups, hehe..” celetukku, sekali lagi, dia menginjak sepatuku dengan High Hells nya,
“IMPAS” ucapnya menatap geli mataku,
“Hahahaahaha.. ga akan lupain malam ini deh, nya Muthi!! Nya Nova!!” dia memegang tangan kami berdua dan menariknya lembut, kami mengangguk
“Ayo kerja!”kami mengangguk lagi.
Apotek mulai sepi, ini kesempatan Mba Yani untuk menceritakan tragedi itu kepada para karyawan yang ada saat itu , dia memerankan 4 tokoh sekaligus; Dia sendiri, Nova, Aku, dan orang gila itu. aku hanya tertunduk malu setelah dia meniru ekspressi bodohku, seisi apotek pun tertawa, mereka menatapku, aku ragu untuk tersenyum :), dan akhirnya aku pun tertawa ketika dia meniru gerakan kepala orang gila tersebut, piawai sekali, Mba Yani : LULUS CASTING. Haha.. meskipun aku malu, tapi aku senang, karena dapat tertawa bersama mereka, meskipun hanya satu bulan bersama, aku bahagia, karena mereka bagaikan keluarga bagiku. Alhamdulillah
___

Aku kangen Mba Yani yang paling bisa membuat Bu’de kesel tapi senyum kembali, padahal Bu’de adalah supervisor yang jutek abizzzzz namun lucu jika sedang marah, tapi itulah mba Yani, seorang Apoteker lulusan ITB yang kami kenal, Cantik, Pinter, dan SUpel. Perfect.
11 November tahun lalu, akhirnya dia menikah dengan tunangannya, mereka saling mencintai, itu yang dapat aku simpulkan dari curhatannya selama ini padaku, akupun turut berbahagia, semoga mereka menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah, Warahmah, Amin. Semoga aku dapat menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku, I hope someday we’ll meet, I’m pleased to greet you, My Mr. Right, Datanglah tepat waktu. Aku menunggumu.
Hahaha.. udah malam ternyata.
Sekian catatanku hari ini, selamat malam semuanya, semoga tidur kalian nyenyak malam ini yah. terimakasih untuk pepaya yang telah memanjakan wajahku dan Sidiq Yang memainkan lagu Romantis malam ini. :)
——
Parakan Resik, 05 Januari 2012|11:11 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s