Catatan Romlah II

Catatan Romlah II

Tidak ada yang spesial hari ini, selain rasa lemas yang menguasai badannya, Romlah memulai sore ini dengan menonton sebuah VCD yang berjudul 3 idiots, berharap film tersebut dapat membangkitkan semangatnya seperti dulu, dia mulai mengatur posisi duduk senyaman mungkin, pandangannya terfokus pada layar datar yang siap menghiburnya.

Berhasil, ya !! film itu berhasil membuat Romlah kembali tersenyum. Kondisi sore ini memang tidak bersahabat, gemuruh hujan yang sedang bermain bersama angin dan kilat sedikit mengganggu acara nontonnya saat itu, rasa dingin yang semakin menjadi perlahan menyusup ke dalam surga kecilnya, beruntung, sebuah selimut mampu menghangatkannya lagi, senyum… tertawa… senyum… tertawa, itulah yang dilakukan Romlah melihat adegan yang disajikan, dalam hitungan detik badan Romlah kembali melemas, suhu tubuhnya meningkat, keningnya semakin hangat, dan dia merasa sangat kedinginan sampai film yang sedang dia simak sedikit terabaikan, Romlah pun berusaha berdiri dibantu meja belajarnya yang kokoh, perlahan dia mengambil jaket dan mengenakannya langsung, dan dia pun kembali duduk dan mulai menyimak filmnya lagi.

Tiga menit kemudian Romlah tersadarkan dengan pakaian yang menanti untuk dicuci, Romlah menghentikan sejenak hiburannya dan mulai menuju kamar mandi untuk mencuci pakaian yang telah ia rendam sebelumnya dan dilanjutkan dengan mandi sore, setelah itu Romlah melanjutkan hiburannya dan duduk seperti 45 menit yang lalu dan dihangatkan kembali dengan jaket dan selimutnya, sangat hangat.
Sayang, kali ini tubuh Romah terasa sangat panas, dia mengigil, keningnya pun sama, Romlah pun menundukkan kepala dengan ditopang oleh kedua tangannya, matanya terpejam, tanpa disadari darah menetes dari hidung Romlah, sangat tidak terasa, saat Romlah membuka matanya, dia sangat terkejut melihat tetesan darah diatas bantalnya, tangannya pun dengan spontan menyentuh dan menekan hidungnya, dan benar, darahnya mengucur sedikit deras, segera romlah mengambil tisu dan menyeka darahnya, dia pun membaringkan tubuhnya yang semakin mengigil, air mata pun menetes tanpa permisi, ingin rasanya Romlah menangis lebih keras dari itu, hanya saja dia malu jika didengar teman kost yang lainnya, di saat inilah Romlah merasakan rasa rindu yang mendalam pada sesorang sahabat, beberapa kali dia mengambil handphone untuk mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisi keadaannya sekarang, tapi dia urungkan kembali, dia takut mengganggu sahabatnya itu.

Romlah mulai membatasi perasaannya saat itu, tentulah dengan alasan yang sangat kuat yang dia yakini dan rasakan, dan hanya Romlah yang mengetahuinya. Air matanya menggambarkan sebuah emosi karena kehilangan yang akan dia rasakan. Semoga cepat sembuh Romlah. :)

********
Parakan Resik, 23 November 2011|09:09 pm
OST : Rasa Ini-Vierra | Selamanya Cinta-Yana Yulio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s