Hanya Untuk Dikenang I

Hanya Untuk Dikenang I

Kami
Akhir Mei 2009 lalu, tepat jam 10 malam, Seorang pemuda 18 tahun memintaku untuk menjadi teman hatinya, dia sudah berusaha cukup keras untuk dapat meluluhkan hatiku. Dan aku hargai usahanya itu, kemudian kami resmi menjadi sepasang kekasih yang rela terpisahkan oleh jarak yang terbentang.
Aku menyukainya, dia sosok pemuda yang baik dan sederhana. Aku menyukainya, karena dia memiliki suara yang pantas untuk dirindukan, terkadang dia bernyanyi lagu romantis di malam hari dengan alunan gitar yang membuatku merasa bahwa dia berada disampingku pada saat itu. perlahan namun pasti, aku mulai menyayanginya.
Manisnya kisah kami sempat terganggu karena telah hadir seseorang yang tidak merelakan kami bersama, sempat membuatku kusut, aku tidak dapat menahan rasa kesalku, aku ingin bertanya sesuatu kepada pemuda itu. akhirnya aku menyerah, aku merelakan pemuda itu untuk kembali pada perempuan yang membuatku kusut tadi, aku merasa tidak nyaman dengan apa yang telah ia perbuat di hubungan kami, tapi, pemuda itu tetap ingin selalu bersamaku, dia tidak tau, bahwa aku hampir menangis karena itu. dari sanalah, hubungan kami menjadi lebih dekat meskipun kami susah untuk berkomunikasi. Tapi aku menikmatinya, karena aku yakin, dia dapat di percaya.

16 juni 2009
senang sekali, karena aku sudah berumur 16 tahun, banyak sekali ucapan selamat dari semua orang yang menyayangiku, termasuk dari pemuda itu. hal yang tidak akan pernah aku lupakan adalah saat dia meneleponku dengan sedikit berbisik, sepertinya dia sedang menonton sebuah konser, berisik sekali. Akhirnya diapun menjelaskan bahwa dia meneleponku dibawah ranjang didalam asrama, supaya tidak ketahuan ustadz, teman-temannya duduk mengelilingi ranjang dan membuat suasananya sedikit gaduh. Dia melakukan itu untukku, di ulang tahunku.

pertama
Dia ingin bertemu denganku, karena dia sudah resmi akan tinggal di Bandung untuk melanjutkan pendidikannya, terlalu banyak alasanku untuk senang akan hal itu.
Setelah pulang les, tepatnya hari Minggu, aku menunggunya di depan gerbang rumah sakit di Bandung, setelah lama menunggu, aku melihat seorang laki-laki menghampiriku dengan motornya yang berwarna hijau, warna kesukaanku, dia juga memakai helm berwarna hijau seperti milikku, kami terlihat serasi. Saat bertemu dengannya, aku hanya menundukkan kepala, aku tidak mampu memandang wajahnya, tanganku gemetaran. Dia mengajakku pergi untuk makan siang,
“muty mau makan apa?”
“muty mau makan bakso, akhi?”aku balik bertanya
“oh, yaudah atuh” dia segera memarkirkan motornya, dan kami menuju sebuah gerobak baso di depan masjid agung Bandung. Dia tidak memakan baksonya, dari sanalah aku tahu, kalo dia berbeda dariku, dia tidak menyukai bakso.

Cijapati, I’m in love II
Sekitar jam 6 pagi di hari Minggu, aku akan menghadiri khataman teman-teman SMPku dulu saat di Pesantren, aku menunggu pemuda itu datang menjemputku, tak lama kemudian dia datang dan aku masih terdiam didalam warung, jujur, aku deg-degan sekali untuk bertemu dengannya, walaupun hubungan kami sudah berlangsung selama 1 tahun, tapi bagiku, kami selalu seperti pasangan baru, tepatnya pada saat kami bertemu.
Aku selalu tersenyum saat melihatnya meminta izin kepada bapakku untuk mempercayakan anak gadisnya pergi bersama dia, “ ngijinkeun tapi siga nu teu ngijinkeun” sepertinya itu yang dia simpulkan saat ayahku berkata iya.
Kami menikmati udara pagi di sepanjang perjalanan, tanpa perbincangan ( seperti di bonceng tukang ojeg ). kami menempuh jalan Cijapati sebagai jalan pintas menuju Singaparna, aku suka sekali melewati jalan itu, karena aku dapat melihat daun-daun dan merasakan segarnya udara pegunungan, merekapun menjadi saksi bisu, dimana kami pernah berfoto bersama untuk pertama kalinya.

Pecah, pecah, dan pecah lagi
Di daerah Garut, aku merasakan ketidakseimbangan yang terjadi pada motornya, dan kami menyadari bahwa bannya sudah pecah dan pemuda itu memutuskan untuk menambal ban tersebut. Dia mencari tempat tambal ban terdekat tanpa aku, aku melihat dia memapah sepeda motornya, semakin menjauh dan menjauh dari pandanganku.
Aku terus berjalan dengan sedikit pincang, karena pada malam sebelumnya, jari tengah kaki kiriku terluka pada saat aku bermain bersama adik bungsuku, sehingga rasa sakit itu masih sangat terasa. Aku berjalan tanpa membawa uang sepeser pun, karena dompetku masih berada di motor pemuda itu, aku meneleponnya dan aku baru ingat, ternyata Handphone nya itu mati, karena pada malam sebelumnya, dia lupa tidak mengisi ulang batrenya, alhasil aku tidak tau harus bagaimana lagi, selain berjalan terus, berharap aku dapat menemukan dia, jika sudah bertemu, aku tidak akan senyum atau berbicara padanya di sepanjang jalan.
Rasa sakit di jari kakiku semakin terasa, aku masih melanjutkan perjalananku untuk mencari pemuda itu, dan dari kejauhan, aku melihat seorang laki-laki berlari, semakin mendekat kepadaku, dia tersenyum, tapi aku tidak membalasnya, aku kesal!.
Aku melihat keringat mengucur melewati pipinya, dia berusaha untuk mengatur nafasnya yang semakin cepat,
“lama amat, kemana aja? Muty takut di jalan sendirian, semua orang liatin muty, kaki muty juga sakit” aku memprotes keterlambatannya dengan nada seketus mungkin
“maaf atuh” hanya itu yang keluar dari bibirnya
Dia berjalan disampingku, menanyakan kabar jari kakiku, dia terlihat bersalah, dan aku terlihat semakin kesal, karena kami belum menemukan bengkelnya.
“masih jauh ga sih?” tanyaku semakin ketus, dia tidak menjawab, aku semakin kesal
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya aku sampai juga di bengkel kecil itu.
Masih kesal, aku duduk di sebuah kursi yang compang-camping, sambil menunggu bannya di tambal, dia mengisi waktunya untuk meminta maaf kepadaku, tapi aku masih kesal.
Aku memperhatikan pemuda itu yang terus memeriksa keadaan motornya. Dan menarik sebuah kesimpulan, ternyata dia seorang pemuda yang bertaggung jawab. Karena dia rela berlari untuk menjemputku, berlari dengan jarak yang cukup jauh, dan tanpa istirahat, dia berjalan bersamaku, saat sampai di bengkel itupun, dia tetap tidak istirahat, dia masih meminta maaf dariku, aku tidak boleh menyalahkan dia dan motornya, karena bisa saja bannya tidak kuat menahan berat badanku yang membuat ban tersebut tertekan dan pecah. Dia menjaga amanat yang ayahku berikan.
Kami mengalami pecah ban selama 3 kali, dan yang terakir di Cintawana, di daerah Singaparna. Dan kami pun memutuskan untuk menggantinya dengan ban yang baru. NO TAMBAL
Awalnya dia memberiku saran agar aku di jemput oleh teman laki-lakinya yang juga pernah menjadi pacarku, padahal itulah yang membuatnya sangat cemburu, karena dia juga masih belum menerima jika aku di bonceng oleh sepupu laki-lakiku,
“emang ga akan cemburu ya kalo muty di bonceng orang lain, apalagi sama kakak itu?”
“ya gimana lagi, muty kan buru-buru buat ketemu Iyus & temen-temen di Tajdid, mau ya?”
“engga, mut di sini aja sama akhi, sampe semuanya selesai, dan kita lanjutin perjalanannya bareng” jawabku pasti
“yakin?” tanyanya memastikan, aku mengangguk dua kali, dia tersenyum.

Sebelum pecah ban yang ke-3 kalinya, kami sempat diguyur hujan deras sekali, aku tidak memakai jas hujan saat itu, dia memintaku untuk menggunakan miliknya, tapi aku menolak, dengan pertimbangan bahwa dia yang lebih membutuhkannya dari pada aku,
“tenang aja khi, muty bawa baju ganti kok”
Dia pun mengenakan jas hujan itu, mempercepat laju motornya, tamparan air hujan seakan menyelinap dari helm ku, sakit. alhamdulillah, Allah selalu menjaga kami, bahkan pada saat ban pecah untuk terakir kalinya, karena pada saat itu, posisi motor sedang akan menyalip sebuah kendaraan di sebuah tanjakan, aku mendengar suara wanita yang menjerit mendengar ban motor kami pecah, untungnya pemuda itu mampu mengatasinya, sekali lagi, dia menjagaku.

Benar kan, dia menjalankan amanatnya!
“Ukhti Muty, ada yang manggil dari bawah” seorang adik kelasku berkata demikian
“tolong bilangin, sebentar lagi, ukthi lagi pake kerudung” pintaku, diapun menyampaikannya
Setelah itu aku berpamitan untuk pulang, karena hari semakin sore, aku menuruni tangga, aku tidak melihat pemuda itu di sana,
“akhi dimana?” itu isi dari pesan singkatku untuknya
“di rumah” jawabnya
“Muth nunggu di agen ya”
Sudah hampir setengah jam aku menunggunya, aku kesal sekali, aku terus memintanya untuk segera menemuiku, karena aku mulai tidak betah disana, ditambah lagi saat seorang badut menghampiriku, karena aku takut sekali terhadap badut, tepatnya badut yang bertopeng, yang meliuk-liuk didepanku, menatapku tanpa berkedip sekalipun.
“akhi cepat kesini” aku memaksanya
“iya… iyaa”
Akhirnya dia mendapatiku dengan wajah yang terlihat kesal, aku tidak berkata apapun kepadanya.
“Mut, kita ke rumah temen akhi dulu yah?” aku tidak menjawab, aku masih melipat wajahku
“kenapa?” tanyanya, membuat suasana semakin keruh
“senyum dong, masa ketemu temen-temen akhi, muty cemberut” bujuknya, aku masih tidak berubah
Aku duduk di sebuah sofa panjang bersamanya, dia terus membujukku untuk tersenyum, teman-temannya pun memperhatikan kami
“suuuuussssssssssiiiiis…. Wowowowo.. suuuuusiiis” beberapa dari temannya berkata begitu, pemuda itu tersenyum malu, aku juga ingin tersenyum.
“Mut udah makan belum?, tanyanya dengan lembut, aku mengangguk cepat
“akhi makan dulu yah” ucapnya dengan tenang
“belum makan? Kenapa?” tanyaku sinis
“kan tadi neng muty minta akhi buat cepet-cepet jemput, jadi di rumah ga sempet makan dulu” jawabnya
“trus itu, kenapa bajunya belum di ganti?itukan udah basah!” tanyaku lagi
“kan akhi cepet-cepet buat jemput muty” jawabnya lagi
“pas Muty sms, akhi lagi di jalan ke rumah, akhi Cuma salam ama orang tua, takut muty manyun kayak tadi, yaudah akhi pamit aja lagi, ga ingat sama makan, apalagi ganti baju” jelasnya
“kenapa ga tunggu muty dulu, muty kan ga lama pake kerudungnya”
“yaaa,,, kan biasanya perempuan lama pake kerudungnya”
“tapi kan Muty engga”, dia tidak menjawab
Rasa kesalku kemudian luluh saat melihatnya, aku merasa bersalah , padahal itu adalah waktunya untuk melepas rindu kepada keluarganya, dan aku? Orang yang merengutnya, kesal karena melihat dari salah satu aspek saja, itu kesalahanku, andai waktu bisa terulang kembali, aku akan membiarkannya berlama-lama di rumahnya, aku menyesal.
“kenapa akhi ga nunggu Muty selesai pake kerudung dulu, udah gitu kita pergi ke rumah akhi, Muty nunggu di depan rumah juga ga apa-apa” kali ini aku berkata dengan nada rendah.
“kan akhi ga tau kalo Muty ga lama pake kerudungnya” ucapnya setelah menegguk segelas air minum didepannya
“udahlah, sekarang senyum yah!”
“Maaf ya khi, Mut baru nyadar sekarang” ucapku sambil menundukkan kepala
“Iya, ga apa-apa, maaf juga yah udah ninggalin Muty” dia memalingkan wajahnya kepadaku, dan tersenyum.
Tidak lama setelah itu, bapakku menelepon, semuanya terdiam. Bapakku meminta agar aku segera pulang, karena hari sudah sangat sore, saat aku memberitahukan bahwa aku masih ada di Singaparna, bapak marah, dan memintaku untuk pulang saat itu juga, pemuda itu seakan dapat membaca keadaan, aku memintanya untuk pulang ke Bandung, hujan pun kembali deras, memperburuk keadaan. Aku suka tersenyum saat mengingat ini, dan sekarang pun aku tersenyum :
Waktu itu dia bertanya kepada teman-temannya, apa mereka memiliki jas hujan, dia melakukannya untukku, dan tidak ada seorangpun yang mengangguk, dan akhirnya seorang temannya memberikan angin segar
“aku punya”
“mana? Sini!” tanya pemuda itu dengan antusias
“ya ambil aja sendiri” jawab temannya. Pemuda itu kemudian mengambilnya, entah dari mana.
“makasih yaaaaaaaaaaa”. Pemuda itu berkata demikian
“Muty pake punya akhi aja ya!” sarannya, akupun memakainya
“loh, celana jas hujan itu mana? Akhi pake yang mana?” tanyaku sedikit kebingungan
“ga ada, yaudah ga apa-apa kok”
“pake yang ini aja” aku menunjukkan celana pelastik yang aku pakai
“engga ah, muty aja” dia lagi-lagi tersenyum, aku melihat teman-teman pemuda itu yang sepertinya tengah memperhatikan kami, mereka terlihat setuju dengan apa yang telah dilakukan pemuda itu.
Waktu telah menunjukkan jam 5 sore dengan suara hujan yang semakin bergemuruh, saatnya berpamitan.
Ada satu kesan yang sampai saat ini aku ingat, saat aku dan pemuda itu menaiki sepeda motor di tengah derasnya hujan, seorang teman dekatnya memotret kami dari kejauhan. Dialah yang menjuluki kami sebagai the best couple.
Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam menuju rumahku, dinginnya udara malam menyelinap masuk kedalam pori-pori kulitku, dingin sekali, aku membayangkan betapa dinginnya udara yang pemuda itu rasakan, dia masih memakai baju basah itu, aku kembali merasa bersalah.
“akhi cape ya?” tanyaku memecah kesunyian
“engga sih, Cuma ini tangan kaku” jawabnya
“istirahat dulu yu, ntar kalo ada tempat duduk, kita berhenti yah!” usulku
“ih, kita harus cepat-cepat nyampe rumah, biar ayah Muty ga marah, ntar akhi ga di ijinin lagi buat keluar sama Muty”
“kalo ada tempat duduk, kita istirahat dulu yah” jawabku.
Aku bersyukur karena dia selalu berusaha untuk menjaga amanatnya, aku semakin menyayanginya.

Soto
Lamanya perjalanan membuat kami lapar, akhirnya kami menuju sebuah tenda makanan favoritku sejak kecil, soto ciparay. Kami berdua tersenyum saat orang-orang disekitar kami menertawakanku yang masih memakai jas hujan milik pemuda itu yang nampak kebesaran,
“Muty, copot aja kalo malu mah”
“engga ah, hehe… tanggung khi” jawabku, kali ini dia yang tertawa
Hidangan hangat itupun tersaji didepan kami, dia terlihat menikmatinya, kamipun berfoto bersama saat menyantapnya.
Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan menuju rumahku, dan akhirnya kami sampai disana dengan selamat, ibu dan adikku sudah menunggu kedatangan kami, dan mereka pun tersenyum. Aku menemaninya beristirahat sejenak di warungku, dia terlihat menikmati apa yang telah terjadi sepanjang hari itu, tanpa di sadari, kejadian-kejadian itu membuat cinta kami semakin mekar dan wangi.
Selanjutnya dia berpamitan kepada ibuku saja, karena bapak sudah ketiduran menunggu kedatanganku. Pemuda itu melambaikan tangannya kepadaku, Ibu dan adikku, dan perlahan meninggalkan rumah.
Benar kan, dia sukses menjagaku , Alhamdulillah  (bersambung)

*aku masih ingat saat dia meberitahuku, bahwa pada malam itu aku cantik. Aku tanpa make up.
Mungkin ada binar dari hatiku, senang, karena dia mampu menjaga amanat bapak, menjagaku. Terimakasih.

muthiaura
muthiaura

_________________________________
Bandung, 12 Februari 2012 | 22.04 WIB
OST : Amazing Love-OST Full House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s