Titrasi (Volumetri)

Titrasi (Volumetri)

Tak terasa, tak terkira, dan tak terduga.. tapi ini nyata sobatt!! Bangunlah!

Romlah : “ oh Sidiq, kepalaku terasa berat sekali, tugas perkuliahan nampaknya sedang asik menguntitku akhir-akhir ini, Kimia Analis, Botani Farmasi, Anfisman, Farmasetika, jurnalnya, belum lagi laporannya!”

Sidiq: “emang kamu aja yang ngerasa gitu? Hah? Aku juga sama setres tau!” yaudah , mending kita kerjain tugasnya satu-satu, dari pada ngeluh, tugasnya ga kan selese selese tau, ntar nambah stress, trus diare lagi”

Romlah : “ Iya juga sih, tapi kita kerjain apa dulu nih? Kimia? Tentang titrasi  pula, haduh, jujur ya Diq, aku suka sama kimia, tapiii… suka kan belum tentu bisa, ga ngerti-ngerti pula sama konsepnya, mana besok praktek, belum bikin jurnalnya, trus di lanjut sama kuliah kimia analis, Seriously Blank! hmm”

Sidiq : “ngeluh lagi, ngeluh lagi, jangan gitulah, kita kerjain aja satu-satu, tapi kita belajar konsepnya dulu yu!Titrasi ?! Kita pasti bisa!”

Aku pun mengangguk tanda setuju, dan Sidiq tetap tersenyum, ah sahabatku……

Well, Titrasi… here we come

“Bismillahirrohmanirrohim…” kami mengucap basmallah bersama.

____________________________________________________________________________________________

TITRIMETRI

Analisa titrimetri atau analisa volumetri adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan larutan baku sekunder yang dianalisis dengan larutan baku yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti (larutan baku primer), dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif.

Penggolongan analisis titrimetri ini, berdasarkan :

1.Reaksi Kimia

  • Reaksi asam-basa
  • Reaksi oksidasi-reduksi
  • Reaksi Pengendapan
  • Reaksi pembentukan kompleks

2. Berdasarkan cara titrasi

  • Titrasi langsung
  • Titrasi kembali

3. Berdasarkan jumlah sampel

  • Titrasi makro

Jumlah sampel : 100 mg– 1000 mg

Volume titran : 10 – 20 mL

Ketelitian buret : 0,02 mL

  • Titrasi semi mikro

Jumlah sampel : 10 – 100 mg

Volume titran : 1 – 10 mL

Ketelitian buret : 0,001 mL

  • Titrasi mikro

Jumlah sampel : 1 – 10 mg

Volume titran : 0,1 – 1 mL

Ketelitian buret : 0,001 mL

Titrasi asam-basa sering disebut juga dengan titrasi netralisasi. Dalam titrasi ini, menggunakan larutan standar asam dan larutan standar basa.

Pada prinsipnya, reaksi yang terjadi adalah reaksi netralisasi yaitu :

H+ + OH↔ H2O

 A.     Metode titrasi asam-basa

a)      Alkalimetri : Merupakan metode titrasi asam-basa dengan menggunakan larutan baku sekunder basa dan larutan baku primer asam.

b)      Asidimetri : Merupakan metode titrasi asam-basa dengan menggunakan larutan baku sekunder asam dan larutan baku primer basa. Asidimetri juga telah dimanfaatkan secara meluas misalnya dalam pengujian boraks yang sering dipergunakan oleh para penjual bakso. Proses analisis dilakukan dengan melaruitkan sampel seberat 500 mg kedalam 50 mL air dan ditambahkan beberapa tetes indikator metal orange, selanjutnya dititrasi dengan HCl 0.1 N.

  • Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetrik adalah sebagai berikut :
  1. Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
  2. Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang kuantitatif/stokiometrik.
  3. Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia maupun secara fisika.
  4. Harus ada indicator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika. Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
  • Alat-alat yang digunakan pada analisa titrimetri ini adalah sebagai berikut :
  1. Alat pengukur volume kuantitatif seperti buret, labu ukur, dan pipet volume yang telah di kalibrasi.
  2. Larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti atau baku primer dan sekunder dengan kemurnian tinggi.
  3. Indikator atau alat lain yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai.

Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas).

Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer, biasanya melalui metode titrimetri. Contoh: AgNO3, KMnO4, Fe(SO4)2. Zat yang dapat digunakan untuk larutan baku sekunder, biasanya memiliki karakteristik seperti di bawah ini:

  1. Tidak mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya.
  2. Zatnya tidak mudah dikeringkan, higrokopis, menyerap uap air, menyerap CO2 pada waktu penimbangan
  3. Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer
  4. Mempunyai BE yang tinggi untuk memperkecil kesalahan penimbangan
  5. Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan

Larutan baku dapat dibuat dengan cara penimbangan zatnya lalu dilarutkan dalam sejumlah pelarut(air). Larutan baku ini sangat bergantung pada jenis zat yang ditimbangnya/dibuat.

  • Syarat-syarat larutan baku primer :

Larutan yang dibuat dari zat yang memenuhi syarat-syarat tertentu .Syarat agar suatu zat menjadi larutan baku primer adalah:

  1. Mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-1200C) dan disimpan dalam keadaan murni.
  2. Tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat dalam penimbangan di udara.
  3. Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji kualitatif dan kepekaan tertentu.
  4. Sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekivalen yang besar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan.
  5. Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih
  6. Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi tersebut harus bersifat stoikiometrik dan langsung. kesalahan titrasi harus dapat diabaikan atau dapat ditentukan secara tepat dan mudah.

Larutan baku primer biasanya dibuat hanya sedikit, penimbangan yang dilakukanpun harus teliti, dan dilarutkan dengan volume yang akurat. Pembuatan larutan baku primer ini biasanya dilakukan dalam labu ukur yang volumenya tertentu. Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku primer adalah asam oksalat, Boraks, asam benzoat (C6H5COOH), K2Cr2O7, AS2O3, NaCl.

Konsentrasi larutan baku yang digunakan dapat berupa molaritas(jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan) dan normalitas(jumlah ekivalen zat terlarut dalam satu liter larutan). Satuan molaritas merupakan satuan dasar yang digunakan secara internasional, sedangkan satuan normalitas biasa juga dilakukan dalam analisis karena dapat memudahkan perhitungan.

Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH.

Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar.

Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yyang dianalisis dan larutan standar.

Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa.

___________________________________________________________________

Di hari Rabu yang lembut,

Salam Semuth ^_<.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s