Analisis Kimia : Kualitatif II (Anion dan Kation Beserta Cara Identifikasinya)

Analisis Kimia : Kualitatif II (Anion dan Kation Beserta Cara Identifikasinya)

Selamat pagi semuanyaaa!!!

Masih semangatkan belajar kimianya? Hehe… masih dong yah? Asiklah, kali Muthi akan menulis tentang analisis kualitatif part II : anion, kation, dan cara identifikasinya, wiiih banyak banget yah.

Buat cool readers, jangan lupa bawa popcorn satu baskom sama mijonnya satu galon yah, biar ga bosen bacanya, haha…( becanda? Garing banget sih muth  -,-). Haha lagi… selamat menikmati.

Nabda bil basmallah, Bismillahirrohmanirrohim.

_____________________________________________________________________________________

1. Namaku Anion

Kebanyakan manusia memanggilku dengan sebutan ion negatif, biasanya aku ditemukan dari sisa asam, aku hadir di dunia ini untuk menstabilkan kation. Meskipun bermuatan negatif, tapi aku tidak selamanya merugikan. Tidak percaya? Baiklah. Cool Readers pasti  pernah mendengar kata NaCl atau garam yang selalu eksis di dapur  masing-masing, garam dapat membuat setiap makanan terasa lebih lezat bukan? Tentu. Ion Natrium sebagai Kation dan Chlor sebagai Anion yang jika bergabung dapat memberikan sensasi rasa yang sangat dibutuhkan, satu pertanyaan lagi, jika tidak ada Chlor, apa Natrium sendiri masih bisa memberikan rasa asin tersebut?.

NO3-, NO2-, CH3COO, SO42-, CO32-, NO2, AsO43-, I, dan Brmerupakan beberapa contoh anion yang sering digunakan dalam analisis kimia, untuk mengidentifikasi keberadaannya, maka analisis kimia secara kualitatif lah yang digunakan.

2. Namaku Kation

Nama lainku adalah ion positif, aku berasal dari sisa basa.  Benar kata anion, kami hadir didunia ini untuk saling menstabilkan satu sama lain. Terkadang kami terpisah, bersama, bahkan bercampur dengan senyawa lain, hal ini yang membuat para manusia merasa kebingungan untuk menganalisis keberadaan kami di dalam suatu sampel. Dengan kepintaran yang mereka miliki, akhirnya mereka bisa mengidentifikasi kami melalui analisis kimia secara kualitatif, yang akrab disebut:  identifikasi kation dan identifikasi anion.

3. Analisis Kation

Dalam analisis kualitatif sistematis, kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan, berdasarkan sifat-sifat kation itu terdapat beberapa reagensia. Reagensia yang umum dipakai diantaranya : asam klorida, Hidrogen sulfide, Amonium sulfide, dan Amonium karbonat. Klasifikasi kation berdasarkan atasapakah suatu kation bereaksi dengan reagensia, reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. boleh dikatakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfide, dan karbonat dari kation tersebut.

Reagensia yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah:

1. HCl

2. H2S

3. (NH4)2S

4. (NH4)2CO3

Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagen-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Klasifikasi kation yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfat dan karbonat dari kation tersebut.

Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai berikut:

1. Golongan I

Kation golongan I        : Timbal (II), Merekurium (I), dan Perak (I)

Pereaksi golongan      : Asam klorida encer(2M)

Reaksi golongan       : Endapan putih timbal klorida (PbCl2), Merkurium(I) klorida (Hg2Cl2), dan perak klorida (AgCl)

Kation golongan I membentuk klorida-klorida yang tak larut, namun timbal klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu timbal tak pernah mengendap dengan sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang tersisa itu diendapkan secara kuantitatif dengan H2S dalam suasana asam bersama-sama kation golongan II Nitrat dari kation-kation golongan I sangat mudah larut diantara sulfat-sulfat, timbal praktis tidak larut, sedang perak sulfat jauh lebih banyak. Kelarutan merkurium (I) sulfat terletak diantara kedua zat diatas.

Bromida dan iodida juga tidak larut. Sedangkan pengendapan timbal halida tidak sempurna dan endapan itu mudah sekali larut dalam air panas. Sulfida tidak larut, asetat-asetat lebih mudah larut, meskipun perak asetat bisa mengendap dari larutan yang agak pekat. Hidroksida dan karbonat akan diendapkan dengan reagensia yang jumlahnya ekuivalen, Tetapi pada reagensia berlebih, ia dapat bergerak dengan bermacam-macam cara dimana ada perbedaan dalam sifat-sifat zat ini terhadap ammonia.

2. Golongan II

Kation golongan II       : Merkuri (II), timbal (II), bismuth (III), tembaga (II), kadmium (II),   arsen (III) dan (V), stibium (III), dan timah (II)

Reagensia golongan   : hydrogen sulfida (gas atau larutan-air jenuh)

Reaksi golongan         : endapan-endapan dengan berbagai warna HgS (hitam), PbS (hitam), Bi2S3(coklat), AS2S3 (kuning), Sb2S3 (jingga), SnS2 (coklat) dan SnS2 (kuning).

Kation-kation golongan II dibagi menjadi 2 sub golongan, yaitu sub. Golongan tembaga dan sub.

Golongan arsenik. Dasar pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida dalam ammonium polisulfida.

sub. Golongan tembaga tidak larut dalam reagensia ini. Sulfida dari sub. Golongan arsenik melarut dengan membentuk garam tio.

3. Golongan III

Kation golongan III      : Fe2+, Fe3+, Al3+, Cr3+, Cr6+, Ni2+, Cu2+, Mn2+, dan Mn7+, Zn2+.

Reagensia golongan  : H2S (gas/larutan air jenuh) dengan adanya ammonia dan ammonium klorida atau larutan ammonium sulfida

Reaksi golongan         : endapan dengan berbagai warna FeS (hitam), Al(OH)3 (putih), Cr(OH)3 (hijau), NiS (Hitam), CoS (hitam), MnS (merah jambu), dan Zink sulfat (putih).

Logam golongan ini tidak diendapkan oleh reagensia golongan untuk golongan I dan II tetapi semua diendapkan dengan adanya ammonium klorida oleh H2S dari larutan yang telah dijadikan basa dengan larutan ammonia. Logam-logam ini diendapkan sebagai sulfida, kecuali Al3+ dan chromium yang

diendapkan sebagai hidroksida, karena hidroksida yang sempurna dari sulfide dalam larutan air, besi, aluminium, dan kromium(sering disertai sedikit mangan) juga diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan amonia dengan adanya ammonium klorida, sedangkan logam-logam lain dari golongan ini tetap berada dalam larutan dan dapat diendapkan sebagai sulfide oleh H2S. maka golongan ini bisa dibagi menjadi golongan besi (besi, aluminium, mangan dan zink) atau golongan IIIB.

4. Golongan IV

Kation golongan IV      : Barium, Stronsium, dan Kalsium

Reagensia golongan      : terbentuk endapan putih

Reaksi golongan            : terbentuk endapan putih

Reagensia mempunyai sifat:

– tidak berwarna dan memperlihatkan reaksi basa

– terurai oleh asam-asam (terbentuk gas Co2)

– harus dipakai pada suasana netral/ sedikit basa

Kation-kation golongan IV tidak bereaksi dengan reagen HCl, H2S, ataupun ammonium sulfida, sedang dengan ammonium karbonat (jika ada ammonia atau ion ammonium dalam jumlah yang sedang) akan terbentuk endapan putih (BaCO3, SrCO3, CaCO3).

5. Golongan V

Kation golongan V    : Magnesium, Natrium, Kalium dan Amonium

Reagensia golongan : tidak ada reagen yang umum untuk ketiga golongan V ini.

Reaksi golongan        : tidak bereaksi dengan HCl, H2S, (NH4)2S, atau (NH4)2CO3

Reaksi-reaksi khusus dan uji nyala dapat dipakai untuk mengidentifikasi ion-ion dan kation golongan ini.

Magnesium memperlihatkan reaksi-reaksi yang serupa dengan reaksi-reaksi dari golongan keempat. Magnesium karbonat dengan adanya garam ammonium dapat larut. Reaksi magnesium tak akan mengendap bersama kation golongan IV. Reaksi ion ammonium sangat serupa dengan reaksi-reaksi ion kalium, karena jari-jari ion dari kedua ion ini hampir identik.

4. Identifikasi Anion

Analisis anion tidak jauh berbeda dengan analisis kation, hanya saja pada analisis anion tidak memiliki metode analisis standar yang sistematis seperti analisis kation. Uji pendahuluan awal pada analisis anion juga berdasarkan pada sifat fisika seperti warna, bau, terbentuknya gas, dan kelarutannya. Beberapa anion menghasilkan asam lemah volatil atau dioksidasi dengan asam sulfat pekat seperti dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Reaksi sampel garam dengan asam sulfat pekat dingin

Anion

Pengamatan

Reaksi

Cl

Bergelembung, tidak berwarna, bau menusuk, asap putih pada udara lembab, lakmus biru menjadi merah

NaCl + H2SO4 →NaHSO4 +HCl

Br

Bergelembung, berwarna coklat, bau menusuk, berasap, lakmus biru menjadi merah

NaBr + 2H2SO4 → HBr + NaHSO4

Anion lainnya tidak memberikan reaksi dengan asam sulfat pekat dalam keadaan dingin, tetapi nitrat bereaksi menghasilkan uap coklat dari NO2 yang dihasilkan, dan asetat memberikan bau khas cuka jika direaksikan dengan asam sulfat pekat.

Umumnya anion dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

a. golongan sulfat  : SO42-, SO32-, PO43-, Cr2O42-, BO2-, CO32-, C2O42-,AsO43-

b. golongan halida : Cl, Br, I, S2-

c. golongan nitrat  : NO3, NO2,C2H3O2.

Garam BaSO4, BaSO3, Ba2(PO4)3, BaCr2O4, Ba(BO2)2, BaCO3, BaC2O4, Ba3(AsO4)2 tidak larut dalam air kondisi basa, sedangkan garam barium anion lainnya mudah larut. Berdasarkan sifat tersebut maka pemisahan dan identifikasi untuk golongan sulfat dapat dilakukan dengan

penambahan pereaksi BaCl2. Kecuali barium kromat yang berwarna kuning, garam barium lainnya berwarna putih. Jika larutan sampel diasamkan dengan asam nitrat dan ditambahkan perak nitrat maka hanya golongan anion halida yang akan mengendap sebagai garam perak, yaitu: AgCl (putih), AgBr (kuning), AgI (kuning muda), Ag2S (hitam). Anion yang tidak menunjukkan uji yang positif untuk kedua golongan diatas kemungkinan mengandung anion golongan nitrat.

Jika sampel Jika larutan sampel diasamkan dengan asam nitrat dan ditambahkan perak nitrat maka hanya golongan anion halida yang akan mengendap sebagai garam perak, yaitu: AgCl   (putih), AgBr (kuning), AgI (kuning muda), Ag2S (hitam).

Anion yang tidak menunjukkan uji yang positif untuk kedua golongan di atas kemungkinan mengandung anion golongan nitrat. Jika sampel mengandung beberapa kation maka uji pendahuluan diatas tidak cukup untuk menentukan ada atau tidaknya suatu anion. Karena itu

setelah pengujian pendahuluan dilakukan maka perlu juga dilakukan uji spesifik untuk tiap anion.

Berikut ini contoh uji spesifik beberapa anion:

1. sulfat

Ambil 1 mL sampel, tambahkan asam dan BaCl2. Jika terbentuk endapan putih maka anion sulfat ada.

2. kromat

Perhatikan filltrat pada uji 1, jika berwarna kuning maka anion kromat ada. Tambahkan pada filtrat Pb nitrat, jika terbentuk endapan kuning maka kromat ada.

3. nitrat

Ambil 1 ml sampel, tambahkan 2 ml asam sulfat pekat. Miringkan tabung uji sehingga membentuk sudut 30oC, kemudian tambahkan beberapa tetes ferosulfat melalui dinding tabung perlahan-lahan. Jika terbentuk cincin coklat maka nitrat ada.

4. asetat

Ambil beberapa tetes sampel, tambahkan etanol, perhatikan bau yang terbentuk, jika tercium bau buah maka asetat ada.

5. Cl

Setelah dilakukan uji golongan, maka penambahan NH4OH akan melarutkan anion Cl dan Br, sedangkan I tidak larut. Penambahan asam lebih lanjut dapat membentuk endapan putih jika Cl ada.

_________________________________________________________________________________________

Alhamdulillah, selesai juga ternyata. Hehe…

Kritik dan saran dari Cool Readers semua akan selalu Muthi tunggu, Jangan lupa tinggalkan jejak yah! Terimakasih🙂😀

Salam Semuth ^_<

Quotes : Happiness will never come to those who fail to appreciate what they already have.

10 thoughts on “Analisis Kimia : Kualitatif II (Anion dan Kation Beserta Cara Identifikasinya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s