Aku Kangen Dillhee…

Aku Kangen Dillhee…

Sudah hampir dua tahun Fadlillah meninggalkan kami untuk selamanya. Kesedihan yang kurasakan ini selalu mengiringi kerinduanku yang tak dapat ku hitung untuknya. Kecelakaan tragis menimpanya di pertengahan Juli 2010, saat dia akan berangkat untuk mengurus laporan PKL di salah satu apotek di daerah Buah Batu, aku masih ingat hari senin terakhir bersamanya, saat kami menjadi perangkat upacara dan seperti biasa dia yang menjadi drijennya. “ Hiduplah Indonesia Raya”, sang saka pun siap di naikkan, alunan tangan fad yang lembut menjadikan upacara di hari itu sangat khidmat.
“ Siapa yang mau meninggal duluan?”, kalimat singkat dari pembina upacara itu membuat kami tersenyum spontan, termasuk gadis cantik itu saat upacara telah selesai di laksanakan.

***

“Fad, kenapa wajah kamu pias begitu, seperti mayat, muthi juga ga gitu-gitu amat?” tanya seorang sahabatku, dan kami pun menganggukkan dan tersenyum di teras kelas.
“ ih ini akibat AC yang di apotek”. jawabnya singkat, sedikit tertawa.

***

Selasa, 20 Juli 2010
Pemilihan ketua kelas di lakukan, Dan akhirnya Fadlillah menjabat sebagai KM untuk kedua kalinya, awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia menyanggupi setelah kami berhasil membujuknya.
“Iya aku mau jadi KM, tapi Cuma sementara aja ya!” ucapnya terlihat bercanda
“yeee, kok gitu” protes kami,. Dia hanya tersenyum sekali lagi.
Seperti yang pernah ku sebutkan, fadhlillah pergi bersama teman kami Fitri untuk mengurus laporan PKL. Dengan izin sekolah, dia pun berangkat, sementara kami semua berkumpul di aula untuk pengarahan sidang laporan PKL.
“Siapa yang belum hadir” Tanya seorang guru kepada kami.
“Fadhlillah dan Fitri pak, baru aja pergi untuk mengurus laporan PKL” Jawab salah satu teman kami
Acara pun berlangsung cukup lama, acara sempat terganggu karena ada informasi bahwa teman kami, Fadhlillah dan Fitri mengalami kecelakaan, dan ada salah seorang teman kami yang meninggal di tempat. Karena terlalu penasaran, aku dan teman-teman yang lain meninggalkan aula, menunggu kepastian akan kabar buruk tersebut. Kami melihat Merry yang mulai menaiki tangga, perlahan menghampiri, menatap kami, dan mulai meneteskan air matanya, semakin deras, memeluk kami, dan mencoba menstabilkan nafasnya. “Fadhlillah meninggal” ucapnya lirih, kami terkejut, dengan air mata yang mulai keluar ,kami menangis, memasuki aula yang saat itu penuh dengan siswa kelas 3, serasa melayang, kami pun duduk dan menangis sejadi-jadinya, seperti mendapat petir di siang bolong, mungkin lebih dari itu, suasana haru semakin terasa saat tangisan kami tumpah seluruhnya, meskipun kabarnya belum pasti. Guru-guru pun menenangkan emosi kami dan mengajak kami berdo’a agar informasI itu tidak benar, Kepala sekolah kami pun menjawab telepon yang membuat kami diam seketika, ku melihat mata beliau yang mulai berkaca-kaca, dia letakkan handphone nya secara perlahan.
“ada yang punya nomer telepon orang tunya fadlillah?”, tanyanya menatap mata kami yang sembab
“ ada pak”, jawab Nova dan Rifki yang juga sahabat fadlillah.
“Fadlillah meninggal” ucapnya berlinang air mata, tangisan kami pun semakin bergemuruh. Unbelievable but undeniable.

***

Teman-temanku datang ke klinik dimana jasad alm. Fadlillah berada, mata Fadlillah belum bisa tertutup, teman, bahkan guru pun tidak berhasil untuk menutupnya. Ibunya datang ke klinik tersebut, terlihat tegar sekali melihat gadis kecilnya terbujur kaku dengan seragam bergelimang darah, perlahan beliau menatap wajah anaknya dan mulai menutup kedua kelopak mata Fadlillah seraya berbisik “ Neng, mamah sudah ikhlas”, dan benar, mata fadlillah pun bisa tertutup untuk selamanya. Subhanallah.
Alhamdulillah, sahabat kami Fitri selamat dari kecelakaan tersebut, hanya saja dia mengalami trauma mental yang sangat hebat, selalu menangis karena penyesalannya membiarkan Fadlillah untuk memboncengnya, sementara fadlillah belum fasih mrnggunakan sepeda motor, tapi inilah yang sering di lakukan orang-orang yang pantang menyerah seperti Fadlillah, belajar melakukan sesuatu yang baru dengan keberanian sebanyak-banyaknya untuk mengurus laporan PKL yang berakhir dengan kematiannya.

Selasa siang kami berangkat menuju sebuah masjid dimana dia di sholatkan, coba bayangkan kawan, ketika selasa pagi senyuman manis dari gadis lincah itu masih dapat kami rasakan, yang kami lihat siang itu hanyalah seberkas wajah tanpa senyuman yang tidak akan pernah kami dapatkan lagi dan tubuh kaku yang di bungkus kain kafan. Inilah yang akan berlaku untuk manusia hidup, Kematian. Hanya Do’a yang bisa kami kirim untuknya, semoga Allah senantiasa menjaganya, dan para malaikat selalu menemaninya. Amin

_________________________________
Bandung, 26 November 2011 | 01:13 PM
OST : One Day In Your Life-Michael Jakson ( Fad’s Favorite Songs)
Which reminds me to her amazing voice, I totally miss that.

4 thoughts on “Aku Kangen Dillhee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s