Naura Tsani Abdillah

Naura Tsani Abdillah

Di suatu pagi yang sangat cerah dan sejuk, para santriwati sedang sibuk memakai sepatu mereka, mereka terlihat sangat bersemangat, termasuk Sani yang terlihat percaya diri dengan kacamatanya. Setelah semuanya selesai, mereka menuruni tangga dan duduk manis di sekitar teras mudzir ma’had yang dingin itu.

Hari itu adalah hari pertama ujian lisan pesantren mereka yang selalu di agendakan lebih awal dari ujian tulis pesantren maupun ujian sekolah. Beberapa menit kemudian, mulailah terdengar suara mereka yang terbiasa menghafal dengan suara keras, dan ada pula yang menutup telinga dan mata mereka, dan berusaha melafalkan setiap kata yang mereka ingat, tidak ketinggalan, seorang santriwati sibuk membulak-balikkan setiap lembaran bukunya, menutupnya, dan membukanya kembali, dia pun terdiam dan memperhatikan teman-temannya yang sangat rajin. Dialah Sani.

Tak lama kemudian, datanglah para santriwan yang nampak gagah dan ganteng dengan seragam hitam putih mereka, melewati para santriwati yang sedang menghafal. Tentunya, tempat itu seketika terasa lebih ramai dari sebelumnya.

Tepat pukul 8 pagi, para ustadz berdasi memasuki ruang kelas, tempat dimana seluruh santri akan di test lisan tentang pelajaran kepesantrenan. Para ustadz tampak lebih tampan dengan kemejanya yang rapi, dan tak lupa, mereka mengenakan jas hitam yang semakin membuat mereka berwibawa. Dan para ustadzahnya pun terlihat semakin cantik dengan kerudung mereka yang syar’i.

Satu persatu santriwan atau santriwati pun di panggil, senyum dan rasa gugup langsung menghampiri mereka.Hari semakin siang, maka semakin bosanlah hari itu, para santri tidak terlihat bersemangat untuk menghafal, mereka menyimpan kembali buku mereka, dan mulai berbincang satu sama lain, ada yang membicarakan tentang bola, ustadz keren, bahkan membicarakan kakak-kakak basket yang terlihat gagah saat berlaga.

“long time pisaaan ih, boring”, keluh Gina yang mulai kehilangan semangatnya

“ya! Very… very long time!” Sani mendukung ucapan Gina tadi

“udah jam 11 lebih nih, masa kita belum di panggil terusss?”, Ucap Gina, Sani pun mendukungnya dengan 2 kali anggukan yang pasti.

“hmm,… harum sekaliii, ema dapur masak apa yah?”

“yaaa… paling sayur kacang, pake kerupuk, bonus pisang, yaa.. biasalah, membosankan” , enteng Gina

“wuuu, biasa apanya? Itukan makanan kesukaanku Giiin, yah, meskipun sedikit cawerang” Kali ini Sani tidak sependapat dengannya

“caweeeerang?? What’s the meaning cawerang? Hahaha” tanya Gina sedikit mengejek,

“hahaha… yyaaa gitu deh”, Sani tidak tersinggung

Kemudian pasukan ema dapur mulai melewati mereka, semilir lezatnya sayur kacang membuat perut Sani memainkan musik keroncongan didalamnya, Sani lapar.

“Gin, ke asrama yu? Laper nih”

“Ntar ah, masih kenyang!”

“hmmm….”, Sani tak mampu berkata selain itu

“ntar aja kalo kita udah di test, baru kita ke asrama buat makan, ya?”

“ih Gina, lihat tuh, masih banyak santri yang belum di test”

“ya.. siapa tau aja, setelah ini kita di panggil” ucap Gina dengan santai, membuat Sani menyerah untuk membujuknya lagi.

“Sani…Sani” seorang santri memanggil Sani yang terlihat betah duduk di teras itu

“Sani… Sani”, para santri bergantian memanggilnya

“Saaaniiiii”, kali ini mereka berkolaborasi memecahkan lamunannya

“iya”, jawab Sani kebingungan dan sedikit terkejut

“kamu di panggil”, ucap seorang santri sambil menunjuk sebuah kelas kecil di seberang kantin

“iiiiiya”, jawab Sani dengan sedikit senyuman

“kamu benar Gin, do’akan aku yah!!!”, ucap Sani kepada Gina yang tengah asyik menghafal kembali, dia kerlingkan matanya kepada Gina, dan mulai berlari mendekati ruang kelas tersebut. Saking semangatnya…..

“bruuuuukkkk!!!”, keadaan langsung hening dalam hitungan satu detik, berpuluh-puluh pasang mata mencari asal suara tersebut, dan akhirnya, mereka melihat seorang santri berkacamata jatuh sedikit membungkuk, dengan tangan yang menopang berat badannya itu.

“ini mimpi”, pasrahnya, rona merah terpancar dari wajahnya, dia malu untuk bangkit

“harusnya aku pingsan, aku ingin pingsan, aku malu”, ucapnya dalam hati, diapun mulai membuka matanya, terlihat jelas puluhan pasang mata memperhatikan kejadian memalukan itu, terlebih lagi, Sani terjatuh tepat di hadapan para santriwan dan Galih. Mereka tidak bersuara sedikitpun, hanya memperhatikan.

“Diam? Cara halus mereka untuk menertawakanku!”, Sani mulai bangkit dari rasa malu itu, dan meninggalkan tempat kejadian perkara. Satu langkah Sani memasuki kelas, riuh suara santriwan mulai terdengar kembali, bukan kembali menghafal, tapi mereka melanjutkan untuk tertawa dengan mulut mereka, Sani malu.

“Sani, kok lama?!”, tanya Ustadz Indra

“hehe… ”, kali ini Sani sanggup tersenyum

“tadi ada apa San? Ko gaduh?”, Ustadz Indra kembali bertanya

Pertanyaan yang membuat Sani kembali malu, sepertinya Sani tidak perlu menjawabnya, karena senyuman Ustadz Indra mulai terukir setelah melihat seragam Sani yang kotor karena kejadian itu. sepertinya dia sudah faham.

“memalukan!” gerutu Sani di hatinya yang terdalam

“Gin…”, Sani menghampiri Gina yang sedang menyeruput pop ice coklat Favoritenya

“San, Ko baru keluar?” tanya Gina

“iya nih, hehe… biasaa” jawab Sani sedikit nyengir kuda

“ke asrama sekarang yu, makan siang, sekarang cuci mulutnya jeruk loh!!” ajak Gina sedikit menggoda

“ga ah, males Gin!, kejadian tadi bikin ga nafsu makan” tolak Sani

“ahahahahaha…….” Kali ini Gina yang tersenyum lebar layaknya joker di kartu remi, sedikit cekikikan, terdengan mengejek Sani kala itu

“kamu lihat kejadian yang tadi? Haduh! Parah”, tanya Sani kembali sambil menepuk dahinya

“absolutely” jawab Gina pasti, sekarang dia hanya tersenyum simpul

“Malu tau, mana tadi akhi-akhi ngelihatin gitu, aaaaaaaaah”

“yaudah ga apa-apa, lain kali hati hati yah!” Saran Gina menepuk pundak Sani

“ke jemuran aja yu!”, saran Gina

“Engga ah, kita ke asrama aja yu? Perutku udah ngelanjutin konsernya”, Sani menyarankan opsi kedua

“ehhhh, you! Plinat plinut”

“hehe… abis sih kata-kata kamu bikin Sani jadi nafsu makan, hehe… oia, kamu kan belum test?”

“kata siapa? Pas kamu masuk, selanjutnya aku yang di panggil, tapi aku duluan yang keluar”

­­­______________________
Hari senin berikutnya pun datang, itu berarti hari pertama para santri untuk melaksanakan ujian tulis pesantren, seperti Muthola’ah, Mahfudzat, Nahwu Shorof, English Grammar dan masih banyak lagi. Mahfudzot adalah pelajaran favorit Sani versi bahasa arab, karena Mahfudzot berisikan kata-kata yang simpel, namun memiliki makna yang dalam, itulah sebabnya mengapa Sani menyukai grup band LETTO yang mulai terkenal dengan Ruang Rindu-nya. Untuk Versi bahasa Inggris, English grammar dan stories 4 you adalah favoritnya, ya… meskipun dalam pelajaran english grammar, nilai para santri umumnya mendapatkan doremifasola, artinya nilai 6 adalah nilai yang di anggap tinggi, dan untuk mendapatkannya pun susah sekali. Stories 4 you, dari namanya pun dapat disimpulkan bahwa pelajaran ini berisi beberapa cerita yang mengesankan dan tentunya mendidik dan mendukung pembentukan karakter bagi pembacanya, meskipun pengajar  untuk kedua pelajaran itu adalah Ustadzah Pina. ustadzah yang kuraaaaang disukai oleh para santri, tapi didalam sanubari mereka, beliau sosok yang sangat dikagumi.

Biasanya, setelah ujian terlewati, kegitan para santri terbilang cukup santai, oleh karena itu, setelah sholat dzuhur dan makan siang, mereka rutin untuk tidur siang, beberapa dari mereka ada yang mencuci, menyetrika, menghapal di depan asrama, ataupun curhat di gubuk derita atau jemuran, kedua tempat itu merupakan tempat favorit santriwati, karena melalui tempat itu, mereka dapat melihat indahnya dunia luar dibalik jeruji tembok pesantren suci ini. Kenapa di sebut gubuk derita? Baiklah, karena menurut pengamatan sani selama 3 tahun, kebanyakan para santriwati mencurahkan isi hatinya kepada sebuah ranjang usang yang sudah sering bergoyang jika tersentuh, tempat mereka menangis, karena masalah mereka sendiri, namun anehnya, gubuk tersebut bagaikan seorang sahabat bisu yang setia untuk mendengarkan, meskipun pada kenyataannya, gubuk itu adalah sesuatu, bukan seseorang.

Meskipun di sebut gubuk derita, tapi di sana mereka mendapatkan banyak kesenangan dan ketenangan, sebagai contoh pada saat mereka sedang merasa lapar, dan perizinan untuk keluar pun tidak mereka dapatkan, para santri telah duduk manis di sana, siap dengan ember yang diikat tali rapia panjang berwarna-warni. Di suatu hari, mereka mendapati dua anak berumur 9 tahun tengah membawa masing-masing satu keranjang berisikan jagung manis hangat, yang tentunya menggoda para santriwati

“jagooong…. Jagoooong”, ucap anak kecil itu dengan lantangnya

Seketika para santriwati memanggil anak –anak itu, setelah menanyakan harga dan menyepakatinya, mereka pun menurunkan ember tersebut untuk menjemput jagung manis yang hangat itu, kemudian menurunkan kembali ember itu untuk menyerahkan uangnya.

Kebiasaan ini terinspirasi oleh teman Sani yang bernama Diding, seorang laki-laki yang saat itu sedang mengidam rujak beubeuk saat istirahat berlangsung, dan tring, pedagang rujak pun melewati benteng gubuk itu, tanpa basa basi Diding memanggilnya, dan membeli rujak bebeuk idamannya dengan cara yang sama. Melihat itu, Sani dan teman-temannya pun tergoda, dan dalam hitungan puluhan menit, rujak pun sold-out. Ini merupakan contoh dari simbiosis mutualisme antara mahluk hidup. Dan mereka yakin, bahwa pedangang rujak itu harus menyisihkan uangnya untuk menyewa tukang urut, karena kelelahan membebeuk rujak untuk mereka.

Dari sanalah, mereka merasakan indahnya kebersamaan, dan Sani mulai mengamini apa yang diucapkan keluarganya di mobil dulu, bahwa di pesantren itu menyenangkan. Kurang lebihnya seperti itu.

“nuhun ya deee”, ucap para santi yang mulai menikmati kehangatan jagung manis di siang hari.

Mulai saat itu, jagung manis menjadi obrolan hangat para santri, jajanan yang mereka nanti. Karena minat para santri pada saat itu sangat tinggi, maka pedagang jagung manis itu menjajakan jagungnya kedalam pesantren, dan karena itu pula, di pesantren telah terjadi 2 kali perang jagung dari kubu santriwan dan santriwati, dan perang ke2 lah yang paling dahsyat dan berkesan bagi Naura Tsani Abdillah.

Lain di siang hari, suasana sore di gubuk itu lebih mengesankan, Sani mulai memakai jaket pink kesukaannya dan kerudung putih panjang yang selalu membutnya lebih cantik, dia menuju gubuk derita itu bersama Ifah, temannya yang berasal dari Jakarta, Ifah bertubuh tinggi dan memiliki senyuman yang manis. Mereka menempati sofa yang sudah rusak di samping ranjang usang berwarna coklat itu.

“Enak yah lihat sawah, di Jakarta mana ada tempat kayak gini”, Ucap Ifah memulai pembicaraan

“masa di Jakarta ga ada sawah, di tempat aku aja banyak Fah”, Sani meragukan

“yaialah, sekarang tuh Jakarta udah jadi ladang polusi”

“hmm… lihat deh anak-anak itu, lucu yah? Fah, aku kangen adikku, aku kangen Rumah, Aku kangen Bandung…”, ucap Sani sambil menunjuk anak-anak kecil bermain layang-layang di tepi sawah.

“kamu ingin pulang”, Ifah melanjutkan

“Iya Fah”, Sani meneteskan air matanya

“Fah, kenapa tiduran disana?” Sani melihat Ifah yang tengah asyik menatap langit diatas sebuah triplek yang lebar

“Sini deh, ga kotor kok” sarannya, dan mereka pun menatap langit bersama, terasa sekali desiran angin membelai pipi mereka.

“kalo kamu kangen, coba deh tatap langit, terus senyum sambil ucapin kalo kamu kangen mereka, kamu ga perlu sedih, karena kalian berada di bawah langit yang sama”, jelas Ifah sambil terus menatap langit yang semakin indah dengan warna-warni layangan diatasnya. Sani menatap Ifah dengan sebuah senyuman, pertanda bahwa dia setuju dengan apa yang telah Ifah ungkapkan. Dan mulai saat itu, Jika Sani merasakan kerinduan, dia akan menatap langit dan tersenyum, dia akan menikmati kerinduan itu.

“sore yang indah”, tegasnya dalam hati

Rabu malam yang dingin di Singaparna menyapa kulit Sani yang tertutupi kain tebal berwarna pink, bersama teman-temanya, dia menuju sebuah kelas, tepat disamping kantor pesantren. Para santriwan dan santriwati terlihat sangat menikmati malam itu, termasuk Sani.

Agenda malam ini adalah belajar Mufrodzat, melalui pelajaran itu, Sani dan kawan-kawan dapat menambah kosa kata bahasa arab yang mereka butuhkan untuk berkomunikasi, berbicara bahasa arab atau bahasa inggris adalah suatu keharusan bagi para santri disetiap minggunya.

Waktu telah menunjukkan jam 08.07 malam, artinya, kegiatan malam pun berakhir. Namun tidak berarti rasa rindu Sani kepada keluarganya berakhir begitu saja, oleh karena itu, Sani memutuskan untuk menelepon keluarganya, dia pun memasuki wartel yang berada tepat di depan kantor. Tanpa menunggu lama, Sani menekan tombol demi tombol, dan terhubunglah dia dengan keluarganya, hanya saja Sani tidak dapat berlama-lama, karena dia tidak membawa uang yang lebih banyak untuk membayarnya, maklum, nelepon interlokal itu terbilang mahal baginya.

“astagfirulloh”, kaget Sani melihat seorang pemuda berada di samping wartel tersebut, dia bertubuh besar namun tidak gemuk, pemuda itu sangat tinggi, ketakutan Sani semakin menjadi saat pemuda itu sesekali menajamkan pandangannya kedalam wartel yang berkaca gelap tersebut, dia menunggu Sani keluar.

“Aisyah, kamu mau nelpon? Sini”, ucap Sani sambil menarik tangan mungil Aisyah yang tentunya merasa bingung dengan tingkah Sani. Sekitar 3 menit Aisyah bercengrama dengan orang tuanya, dan kami berdua berada didalam satu wartel yang sempit dan pengap.

“Syah, udah beres nelponnya? Kok Cuma bentar?”, tanya Sani

“emang harus lama ya? Kamu kenapa sih San?”, Aisyah balik bertanya

“ettt, bentar dulu”, Sani menahan gagang pintu yang Aisyah sentuh, hampir terbuka

“kamu kenapa San?”, Tanya Aisyah semakin heran

“Bismillah, satu, dua, tigggaa”, Setelah mengucapkan kalimat itu, Sani membuka pintu wartel dengan pasti, dia berlari menuju tangga secepat mungkin

“Saniii…. Sani!!!”, pemuda yang ditakuti nya pun berusaha mengejarnya, seperti di kejar oleh seorang raksasa, setiap hentakan yang pemuda itu lakukan sangat terdengar jelas.

“sepertinya ancang-ancangku berhasil, alhamdulillah lolos juga”, ucap Sani sambil menghela nafasnya di depan asrama fatimah.

“Saniii… sani”, suara seorang wanita membuatnya menahan nafas seketika, ustadah Pina telah berdiri didepan Sani dengan tatapan yang tajam di balik kacamata bulatnya, namun dia tersenyum, akhirnya tertawa

“hehe… ustadzah, afwan”

“Tony? Di kejar lagi ya?”, Tanya Ustadzah Pina dengan sebuah senyuman simpul menghiasi bibirnya

“hmm… iya ustadzah, cape”, jawab Sani yang mulai menarik nafasnya kembali, sepertinya mimpi buruk Sani telah menyebar luas di sekitar pesantren.

“San, kamu belum jawab, tadi kenapa kamu lari gitu, haha… lucu tau!”, Aisyah mendekati Sani yang sedang membereskan kasurnya untuk tidur malam.

“kamu tau kan alasannya, kenapa tanya lagi?”, jawab Sani

“oh… akhi tony ya?, haha… ga cape ya dia”

“ga tau tuh, aku takut tau sama dia, badannya gede banget, sereeeem”

“dia kan Cuma mau ngobrol aja, kenapa mesti lari?” Aisyah semakin heran

“tau ah, aduh Syah, kaki Sani sakit banget, kayaknya tadi terkilir di tangga, ah Akhi Tony!”, gerutu Sani yang mulai kesakitan.

Hari berikutnya…

“Rissa, ngapain disana?, mejeng? Ngapalin kamu tuh, jangan mejeng”, tegur Ustadzah Pina

“Rissa belajar kok Ustadzah, nih bukunya”, bela Rissa sambil menunjukkan buku kecil bertuliskan Hadist arba’in

“ah kamu, dari tadi ustadzah liatin kamu lewat jendela, kamu tuh ga baca buku”, Rissa pun diam

“Sani!, mana buku kamu? Besok ujian apa?”, tanya Ustadzah Pina seketus mungkin

“Hadist arba’in sama english grammar, ustadzah”,jawab Sani

“kalian itu bukannya ngapalin, malah mejeng disini, yaudah, Kamu, Sani dan semuanya yang ada di sini hapalin hadist yang pertama dan setor ke kamar ustadzah segera!” perintah ustadzah Pina menggebu

“tapi kan ustadzah, kami ga mejeng, lagian kan pas malam kami bisa belajar trus menghapal”, protes Sani

“harusnya pas ada saat santai, kalian gunakan untuk menghafal, bukan diem ga jelas gini, cepat hapalin, oia, karena ada yang protes, hapalan ditambah, jadi kalian harus menghapal 10 regular dan irreguler verbs kepada saya, saya tunggu!”

Semua santriwati sangat tidak menerima hal ini, tapi apa boleh buat, mereka tidak dapat menolak, dan suasana yang awalnya hening itu berubah menjadi ramai dengan suara para santriwati yang terpaksa untuk rajin.

Pada saat itu, semua santriwati mogok bicara bahkan untuk tersenyum pun mereka enggan, apalagi kepada ustadzah Pina, rasa kesal mereka masih hangat sekali. Tapi, semua kekesalan itu berbuah manis untuk Sani, kenapa? Karena keesokaan harinya Sani mendapatkan kemudahan untuk menjawab soal ujian english grammar, karena pada saat itu, soal-soal tersebut berhubungan dengan simple present tenses dan past tenses. Semuanya tidak sia-sia. Dan akhirnya Sani mencabut kembali rasa kesalnya kepada Ustadzah Pina, dan menggantinya dengan ucapan terimakasih.

“semoga santriwati yang lain juga merasakannya”, Sani berharap demikian, akhirnya dia dapat menghela nafas lebih bebas dan dapat tersenyum lega, sejenak melupakan kakinya yang terkilir

.2005

10 thoughts on “Naura Tsani Abdillah

  1. Saya kakek-kakek tidak pernah kenal dengan tembok pesantren sangat senang membaca tulisan di atas. Dan saya yakin banyak pula yang belum mengenal pesantren dari dekat oleh sebab itu saya sarankan banyak-banyaklah menulis kegiatan para penghuni pesantren. Tentunya tulisan yang manusiawi, artinya dibalik tembok pesantren itu juga ada kegagalan dan kekecewaan, juga ada kehangatan, kasih sayang.
    Sekian salam dari jauh dari oldman Bintang Rina

    1. menulis dan menulislah terus. Jangan berharap, jangan putus asa. Harapan biasanya mengecewakan , putus asa membuat lumpuh. Pokoknya bekerja dan berdoa. Biar Allah yang menuntun tangan kita dalam menulis.
      salam kenal dari saya oldman Bintang Rina

  2. neng bagus2 ui tulisan y.. terus berkarya y…hehe

    neng HATI lagi bikin buku kumpulan cerpen judul y “Santri Van Java” target y buku ini mau launching bulan Romadon ini..
    kalo ingin berpartisipasi hubungi h Ihwan y(085659021003) hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s